Make your own free website on Tripod.com


 

VISI PITC

Paguyuban umat beriman yang mau berbagi dan merakyat.

MISI PITC

Gereja Paroki Ibu Teresa berkehendak kuat untuk mem-bangun paguyuban umat beriman (komunitas basis beriman penuh harapan) dalam ikatanper-persaudaraan sejati murid-murid Kristus, yang dijiwai oleh Roh Kudus, berani berkata 'cukup' kepada godaan duniawi, mempunyai spiritualitas berbagi dan jiwa merakyat (inkarnatoris) sehingga kehadirannya merupa-kan rahmat bagi masyarakat sekitar.

 

Sekretariat Paroki Ibu Teresa - Cikarang :

Jl. Pinus 7 No. 11A, Meadow Green Lippo Cikarang - Bekasi 17550
Telp / Fax : 021-8972982

 

Warta Teresa :
Penasihat : Romo Y.Natalis, Pr
Redaksi : Andreas E.S, Pieter B, Bambang S.W, Caecilia, Fridus RM, Martinus, Steven F
Email Redaksi :
wartaku_teresa@yahoo.com

 

Webmaster :
Antonius Chiang
tonnybun@yahoo.com

 

 

Iman Katolik

Jalan Salib
Citra "Hidup Berbagi" - Hidup yang Ekaristis

Tradisi dan praktek devosional "Jalan Salib" di setiap hari Jumat sepanjang masa Prapaskah membawa pesan dan kesan istimewa bagi kita khususnya di Tahun Ekaristi ini. Membaca, mendengarkan, serta ambil bagian langsung dalam praktek devisional Gereja ini kiranya akan membantu kita untuk semakin menghayati nilai penebusan Kristus bagi diri dan hidup kita, melalui penderitaan, sengsara dan wafat Kristus di atas kayu salib. Spiritualitas Ekaristis, kesediaan untuk berbagi bahkan rela memberikan nyawaNya sendiri sebagai tebusan bagi orang banyak telah dicontohkan oleh Yesus sendiri. Berikut adalah sekilas info tentang asal mula praktek devisional "Jalan Salib" dalam Gereja seperti yang kita kenal sekarang.

Tanah suci Yerusalem menjadi saksi semua peristiwa (Jalan Salib) ini. Bermula dari praktek umat Kristen di abad pertama. Kelompok umat perdana ini mengungkapkan cinta hormatnya atas tempat-tempat yang berhubungan dengan kehidupan, karya, dan kematian Yesus. Sebagai tandanya, umat Kristen perdana mulai mendirikan kapela, Gereja atau meletakkan batu khusus di tempat-tempat suci itu. Berdasrkan sebuah tulisan kuno dari Siria (abad V), Bunda Maria sendiri mengunjungi tempat-tempat itu. Sejarah kemudian mencatat bahwa umat Kristen yang tinggal di Yerusalem sampai kira-kira tahun 70M, terpaksa melarikan diri akibat serangan tentara Romawi atas tanah bangsa Yahudi. Yerusalem serta Bait Sucinya menjadi puing-puing, Akibatnya semua orang Yahudi diusir dari Yerusalem dan dilarang berdiam di sana lagi. Dengan sendirinya semua orang Yahudi yang beriman Kristen terpaksa meninggalkan kota itu. Mereka mengungsi ke berbagai negara tetangga. Nasib semua orang Kristen menjadi lebih baik pada awal abad IV setelah Konstantinus menjadi kaisar Roma. Ia penguasa Romawi pertama yang berani mendukung umat Kristen. Konstantinus memerintahkan bawahannya untuk mendirikan gereja yang indah di tempat Yesus pernah disablibkan dan dimakamkan. Gereja itu dikonsekrasikan pada tahun 334M dan dipandang sebagai gereja terindah di bumi zaman itu. Perhatian kepada tempat-tempat suci itu dihidupkan lagi. Ada kegiatan rohani seperti peziarahan ke tempat-tempat yang dikuduskan bagi Yesus, Bunda Maria bahkan para Rasul. Kehadiran orang Kristen di daerah Yerusalem dan sekitarnya mulai bertambah.

Pada hari Kamis Putih, para peziarah dan umat Kristen yang tinggal di Yerusalem berkumpul di Taman Zaitun. Kemudian, mereka secara bersama-sama mengenang sengsara Yesus dengan menyusuri jalan dari Taman Getsemani hingga Bukit Golgota. Inilah catatan pertama tentang awal devosi yang kini dikenal sebagai Jalan Salib. Mulai-mula tidak ada perhentian-perhentian Jalan Salib seperti sekarang. Rute yang ditempuh dalam rangka Jalan Salib berubah dari waktu ke waktu. Malahan, masing-masing kelompok umat menawarkan sejumlah perhentian berbda dan menetapkannya pada lokasi yang berbeda pula.

Pada abad XI-XIII, demi merebut tempat-tempat suci dari tangan bangsa asing yang menduduki Tanah Suci, umat Kristen melancarkan serangkaian perang yang dikenal dengan nama Crusade atau Perang Salib. Sejak itulah mulai ditunjuk sejumlah tempat yang berhubungan dengan Jalan Salib, antara lain Pintu Gerbang yang dilalui Yesus pada saat Ia keluar dari Yerusalem menuju Golgota, istana Herodes, tempat Pilatus mengadili Yesus, tempat Yesus menyapa perempuan-perempuan Yerusalem yang menangisiNya, tempat Yesus berjumpa dengan BundaNya, tempat Veronika mengusap wajah Yesus.

Sejak tahun 1320 Ordo Fransiskan (OFM) diangkat sebagai ordo yang secara resmi wajib melindungi semua tempat suci di Tanah Suci. Sejak itu OFM rajin mempopulerkan devosi Jalan Salib, lebih-lebih karena St. Fransiskus Asisi mengalami stigmata. Lewat 2 devosinya, yaitu : Inkarnasi Yesus dan Sengsara Yesus yang masing-masing dilambangkan dengan buaian dan salib. Devosi ini kemudian merebak ke setiap Gereja dengan membuat pemberhentian-pemberhentian / stasi kecil di dalam Gereja. Para Rahib Fransiskan juga menciptakan lirik Stabat Mater yang sampai kini selalu dinyanyikan untuk mengiringi upacara Jalan Salib. Lirik ini telah tersebar dam diterjemahkan ke berbagai bahasa. Kemudian Paus Clement XII (1730-40) menetapkan 14 pemberhentian / stasi pada Jalan Salib. Dan ke-14 pemberhentian inilah yang sampai kini diterapkan oleh Umat Katolik.

Ibadat Jalan Salib juga kini menjadi bagian tak terpisahkan dari tempat-tempat peziarahan Katolik, misalnya Gua Maria atau Gereja. Jarak antar perhentian dimodifikasi dan disesuaikan dengan situasi dan kondisi tempat peziarahan. Tetapi yang terpenting dalam melakukan setiap ziarah dan/atau jalan salib adalah kesadaran bahwa hidup kita di dunia inipun adalah sebuah peziarahan, sebuah perjalanan menuju Tuhan, maka Tuhanlah seharusnya yang menjadi tujuan dari setiap kegiatan / karya dalam peziarahan ini, dalam kesadaran itu pula dibangun semangat untuk peduli pada sesama teman sepeziarahan di dunia ini.

Inilah spiritualitas Kristiani alias semangat hidup yang ditimba dari "Jalan Salib" Yesus Kristus. Di jalan inilah kita berada dan hidup. Jalan Salib Yesus menjadi jalan salib kita-kita dikala kita siap dan rela "berbagi" dalam hidup ini dengan orang lain. Jalan Salib Yesus yakni sengsara, penderitaan dan wafat Yesus di puncak Golgota adalah "Jalan Ketaatan" kepada kehendak Bapa di surga. Ketaatan inilah yang diterima oleh Bapa yang kemudian memuliakanNya dalam peristiwa kebangkitan mulia dari antara orang mati sebagai "Putera Sulung".

Misteri penebusan Tuhan ini kira rayakan dalam Perayaan Ekaristi. Maka "Jalan Salib" Kristus dan kebangkitanNya adalah "Hidup yang Ekaristis", sumber, kekuatan dan tujuan hidup kita semua, seperti yang dihayati Ibu Teresa dari Kalkuta melalui semangat "Hidup Berbagi" dengan kaum kecil semasanya. (BRR)

 

Kembali Ke Atas

No.425/Thn.VI/11 Maret 2012

 

 

 

 

 

 

MELAYANI SESAMA DENGAN CINTA KASIH & SEMANGAT PERSAUDARAAN SEJATI
Warta Mingguan Umat Paroki Ibu Teresa
Th.B/II-Hari Minggu Prapaskah III